Jumat, 11 Mei 2012

Sosial Juga Punya Masa Depan


"Anak-anak IPS ?"
IPAdan IPS itulah jurusan yang ada di sekolahku, dua jurusan yang jika di lihat bagaikan langit dan bumi yang sangat terbentang jauh perbedaannya, entah itu hanya terjadi di duniaku saja atau juga terjadi dimana-mana. Apa bedanya IPA dan IPS ? bukankah kedua nya sama-sama pengetahuan yang tak terbatas untuk siapapun, ilmu yang tak hanya di wajibkan untuk kalangan-kalangan tertentu saja ?, tapi mengapa mereka yang memilih jurusan IPA dilakukan seleksi ? tapi tidak dengan IPS, begitu mudahnya kah mata pelajaran IPS dimata Guru kami?. 

Aku ada di sini bukan karena ketidak mampuanku untuk lolos seleksi jurusan IPA, tapi karena mimpiku yang ada di IPS, aku ingin menjadi Psikolog , apakah harus aku relakan cita-citaku hanya demi gengsi semata ?. Katanya orang IPA itu punya masa depan, lalu bagaimana dengan IPS ?. Pertanyaan yang ada di benak semua anak sosial saat ini.
             Dulu mungkin IPS tidak menjanjikan apa-apa karena universitas-universitasmembatasi jurusan hanya untuk anak IPA saja, tapi sekarang Universitas-universitas yang ada sekarang sudah menunjukkan keadilannya dengan membuka kesempatan untuk anak IPS bisa bersaing dengan sehat di bidang masing-masing, tapi kenapa keadilan itu seolah hanya obat penghilang pilu semata, buktinya aku dan jurusanku masih merasakan ketidak adilan itu, masih merasakan kami anak bawang. Fasilitas kami sama bahkan lebih, tapi mengapa diskriminasi terhadap kami masih ada ?, mungkin sadar tidak sadar itu melukai kami, kami datang sama sebagai murid yang haus akan ilmu dari gurunya, namun begitu enteng kah mata pelajaran yang ada di jurusan kami sehingga kami jarang melihat wajah-wajah pahlawan kami , kami masih di lihat sebelah mata sebagai Anak sosial. Kami bisa berdiri sendiri, kami bisa buktikan pada dunia bahwa kami pun punya masa depan yang sama seperti mereka yang memilih eksak sebagai pilihan hidupnya.

                Kami mungkin tak sepintar anak eksak yang selalu menggunakan teori untuk membuka logikanya, kami mungkin tak serajin mereka yang senang membaca buku agar hafal rumus, kami mungkin tak sama dan tak kan pernah sama. Karena kami belajar bukan hanya teori yang di jelaskan guru, bukan hanya menghafal rumus yang ternyata berkutat di satu titik, kami belajar lebih dari dunia kami, dunia yang menjadikan kami mandiri, yang menjadikan kami lebih dari mereka. Kami belajar semua yang benar-benar nyata dan pasti akan terjadi pada kehidupan kami kelak. Tak banyak yang bisa aku janjikan dari diriku sekarang, tapi begitu banyak yang bisa di janjikan oleh kita semua “Anak Sosial”.
Tak ada maksudku memojokkan siapapun, jurusan apapun, yang aku ingin hanya keadilan yang tak ada di duniaku, kita sama, tapi kami selalu di bedakan, Mengapa ? 

3 komentar:

  1. yap semangat terus... saya IPS dulunya dan ceritanya hampir sama,hehe

    #Blogwalking sekalian mau ngasih info juga
    Event Blogger Hadiah Android Samsung & Voucher2 Belanja Matahari

    Salam Bahagia

    BalasHapus
  2. Mengarungi samudera kehidupan
    Kita ibarat para pengembara
    Hidup ini adalah perjuangan
    Tiada masa tuk berpangku tangan

    Setiap tetes peluh dan darah
    Tak akan sirna ditelan masa
    Segores luka di jalan Allah
    'kan menjadi saksi pengorbanan

    Subhanallah ruar biasa. Itu pilihan sendirikan, padahal abinya adalah guru eksak kan.
    salam kenal, aku juga anak IPS 3 thn yg lalu.

    Semangat ya sahabatku...

    BalasHapus
  3. Satu lagi tambahan,
    Anak IPS cenderung kreatif dan lebih kanan,
    Orang kreatif di masa depan jauh lebih di butuhkan daripada orang yang hanya pintar secara teori.

    nice artikel

    BalasHapus

Silahkan Tulis Komentar Anda pada artikel ini!